Tampilkan postingan dengan label curahan hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label curahan hati. Tampilkan semua postingan

Senin, 06 Juni 2011

Rindu Solo

Selalu merindukan untuk pulang kembali ke Solo.
Rindu kotanya, rindu masakannya, rindu tempat ta'limnya, rindu ustadz-ustadznya (rindu majlis ilmunya maksudnya...^^), rindu teman-teman.. dan terutama sangat rindu bapak dan ibuku.

Kadang sedih juga jika mendengar keluh kelah ortuku yang cuma berdua di rumah. Alhamdulillah sampai sekarang ortuku masih mempunyai kesibukan, sehingga tidak terlalu sangat merasa kesepian. Tetapi jika ingat cucu-cucunya katanya jauhhh lebih nggak tahan kangen dibanding ketemu anak-anaknya.. (hm....).
Belum tahu kapan bisa pulang ke solo padahal pengennya pulang dalam pekan ini , supaya bisa ketemuan ama ummu khansa. Seringnya ortuku yang ke rumahku, hampir tiap satu bulan ke sini terutama bapak. Bapak memang selalu kangen sama harits. Ya pantaslah.. sejak harits lahir, yang merawat sejak kecil sampai aku lulus coass adalah bapak dan ibu. Dulu bapak yang sering menggendong, mengajak jalan-jalan, menidurkan... masyaallah... betapa besar pengorbanan bapak ibu waktu itu. Makanya sempat nggak tega juga ketika aku harus membawa harits dari pelukan ortuku waktu itu. Tapi ....bagaimana lagi, tanggungjawabku lah untuk mendidik harits. Secara materi, mungkin ortuku lebih bisa memenuhi dibanding kami, tetapi aku tidak yakin dengan pendidikannya? Pola pendidikan kakek-nenek tentu tidak sama dengan pendidikan orang tua. Oleh karena itu, biarpun dengan berat hati aku sedikit memaksa untuk membawa harits tinggal denganku.

Soal selera masakan, biarpun sudah hampir 4 tahun an di sini, tetap saja aku selalu rindu dengan masakan-masakan asli solo. Apalagi sejak hamil kali ini, aku ngerasa kurang cocok dengan menu masakan sini. Pengen menikmati soto kwali, srabi notosuman, tahu campur pasar kembang, timlo sastro, nasi liwet, steak (hmm..).... sayangnya di sini nggak ada yang jual. Mau mbuat sendiri, juga pesimis bisa seenak rasa aslinya. Alhamdulillah ari ahad kemarin, nggak sengaja nemuin rumah makan yang jual soto semarang di sini (hihihi) lumayanlah sebagai tombo kangen.... Secara rasa soto semarang rasanya kan agak-agak mirip dengan soto kwali, jadi sedikit terpuaskan. Kalau soto daerah sini beda banget dengan soto solo, kalau soto sini dikasi tauco.. jadi rasanya "berat" banget, nggak kayak di solo yang segeer....:D

Sebenarnya mencari ilmu / kajian di zaman sekarang memang mudah banget. Aku bisa dengerin radiorodja via fleksi atau streaming, bisa download kajian di kajian.net, bisa lihat video di ahsan.tv / yufid.tv. Di rumah juga banyak koleksi mp3/CD dan DVD. Masya allah, betapa Alloh sudah sangat memberi kemudahan dalam mencari ilmu. Tetapi.... kenapa ya rasanya tetep lain ketika dulu aku tholabul 'ilmi pertama kali. Selalu merindukan lagi, saat-saat ta'lim di musholla FK dengan ustadz Muhammad Na'im, LC, ustadz abu ahmad, ustadz jauhari dan ustadz yang lain. Mungkin karena waku itu aku masih sendirian kali ya.. jadi bisa konsentrasi dalam mendengarkan penjelasan ustadz, nggak seperti sekarang, atau karena tingkat keiklasanku yang berbeda? Hanya berharap semoga saja suatu saat aku bisa bermajlis dengan para assatidz itu lagi. Aamiin.

Kadang kalau sedang berbicara dengan suamiku, aku memang sering mengutarakan suatu saat ingin menetap di solo lagi, membayangkan di sana dekat dengan ortu, teman-teman, mudahnya mencari ilmu, lingkungan yang kondusif, sekolah yang syar'i..Akan tetapi penjelasan suamiku juga selalu menghibur hatiku. "Dimanapun kita, asal kita bisa istiqomah insyaallah itu yang terbaik, belum tentu juga ketika kita di sana akan lebih baik dari sekarang...". Yah... memang benar juga perkataan suamiku, tidak selalu apa yang kita inginkan, itu yang terbaik buat kita. Belum tentu juga ketika di solo lebih baik dibanding di sini. Aku mempunyai teman yang mendapat rumah di pondok, ternyata juga nggak betah, akhirnya malah memilih tinggal di luar pondok. Padahal kalau aku membayangkan, hidup di lingkunga pondok pasti enak. Banyak ta'lim, teman-teman yang semanhaj, lingkungan yang kondusif...Manusia memang seringnya kurang bersyukur kali ya.... kurang bisa menilai segala sesuatu yang ditakdirkan Alloh dengan kacamata positif. 

Terima kasih suamiku... yang selalu membuatku bahagia dan bisa mengobati seluruh kerinduan ini ^^ 
(Pengen nambahin kata-kata yang lebih romantis, tapi maluu kalau dibaca orang yang tidak berkepentingan...hehehe)

Sabtu, 25 Desember 2010

Oleh-Oleh Haji

Tahun ini Alloh Subhanahu wa ta'ala memberi kesempatan kedua orang tuaku menunaikan rukun islam yang kelima. Ahamdulillah akhirnya ortu bisa melaksanakan kewajibannya yang utama. Sebenarnya ortu dah pulang sekitar sebulan yang lalu. Qodarulloh, ketika ortu pulang dari tanah suci, abu harits nggak bisa izin kerja, jadinya kami nggak bisa pulang ke rumah ortu. Akhirnya ortu malah yang ke rumah kami ^_^. Ketika datang ibu membawa banyak oleh-oleh. Suami dibelikan jubah saudi, anak-anak dibelikan mainan unta dan baju gamis. Aku dibelikan selendang dan karpet yang besar (padahal rumahku sempit, nggak tahu ntar karpetnya ditaruh dimana....*bingung mode on) dan tentu saja yang paling aku harapkan adalah kurma ajwah dan air zam-zam. 
Diantara oleh-oleh itu semua, hal terindah yang aku dapat adalah cerita ibu selama berada di mekkah. Ibu menceritakan beberapa pengalaman yang menakjubkan selama di sana. Ibu bilang tidak ada kebahagiaan yang lebih besar dibanding ketika meihat ka'bah, ketika thowaf di Baitulloh... ISampai akhirnya ibu berpesan padaku: "Kamu harus segera ke sana nduk... mulai sekarang kalau punya uang segera ditabung, biar bisa segera pergi ke sana..." Masya Alloh....aku bersyukur akhirnya ibu mendorongku dan mendo'akan ku untuk bisa pergi ke Baitulloh. Sebelumnya harapan ibu adalah aku segera punya rumah sendiri atau bisa ganti mobil dulu, baru pergi haji... tetapi sekarang ibu sangat mendorong kami untuk melaksanakan kewajiban kita sebagai muslim ini dulu dibanding hal-hal yang lain. Hanya Alloh-lah yang bisa membolak balikkan hati manusia...

Hadiah haji yang lain adalah Bapak mulai menjaga sholat jamaah di masjid. Orang tuaku memang masih awam masalah agama. Aku dan suami sedikit-sedikit mengenakan ajaran Islam, tetapi bagaimanapun kami tidak bisa memaksakan. Sebelumnya Bapak susah sekali diajak shalat jamaah di masjid. Bapak lebih suka sholat di mushola yang bapak bangun sendiri di rumah kami. Alhamdulillah setelah pulang menunaikan haji ini, Bapak  mulai menjaga sholat jamaah di masjid. Semoga bapak diberi keistiqomahan....
Berharap suatu saat ALLOH memudahkan orang tuaku belajar dan mengamalkan islam yang benar sesuai ajaran Rosululah Sholallohu alaihi wa salam. Semoga Alloh mempertemukan kami sekeluarga di surga firdaus-Nya kelak.. Amiin.

Minggu, 14 November 2010

Mencari Kebahagiaan Semu

Satu tahun sudah aku menetap di sini. Kota kecil perbatasan Pekalongan dan Tegal. 'Ala kulli hal, kurasa aku mulai betah di sini. Aku memang tipikal orang yang tidak mudah beradaptasi, perlu waktu lama supaya aku bisa enjoy di sini. 
Setelah satu tahun di sini, tawaran itu datang lagi... tawaran untuk melanjutkan PPDS. Menggoda hatikah? tentu saja.. kurasa masih terselip keinginan di hatiku bisa sekolah spesialis. Apalagi dua temanku di sini, sudah mendahului melanjutkan PPDS 6 bulan yang lalu. Rasanya terlalu sayang kesempatan dilewatkan, apalagi dengan ikut program BK, mendapat bantuan pendidikan yang lumayan.
Aku lebih tergoda sekolah "lagi", ketika mendengar kedua juniorku yang dulu PTT bersamaku, keterima PPDS Anak dan Obgyn. Alhamdulillah. Barokallohu fiihumma Tapi benarkah melanjutkan PPDS yang terbaik juga untukku?
Kodratku adalah ibu rumah tangga bukan? aku bekerja gini aja sudah merupakan "polemik" tersendiri bagiku. Kalau boleh memilih, tentu aku lebih suka tinggal di dekat pondok, ngurusin kedua buah hatiku. Tapi sudahlah... takdirku di sini.

Teringat sekitar satu minggu lalu... ketika aku cerita ke suami, bahwa aku mendapat tawaran yang sama, suami ku "seperti biasa" menyerahkan semua padaku untuk mempertimbangkan keputusan akhirnya. tapi Beliau mengatakan : " Suami tidak bisa membayangkan ditinggal istri 5 tahun, ditinggal 5 hari saja sudah nggak karuan? Siapa yang membangunkan sholat ketika suami masih tidur ketika adzan berkumandang ? Siapa yang mengingatkan ketika suami futur jika berjauhan?"

Ya ALLOH...
Aku tahu kebahagiaanku bukan pada gelar duniawi seperti itu, biarpun kadang syaiton memberiku angan-angan, jika aku menjadi spesialis tentu aku bisa lebih bermanfaat buat akhowat.
Tapi siapa yang menjamin? Apakah ketika aku sekolah lagi, aku tetep bisa ta'alum? Bagaimana pendidikan anak-anakku nanti?  Apakah aku rela melewatkan setiap ba'da maghrib kesempatan belajar dengan anakku demi cita-cita duniawiku itu? Padahal betapa aku tahu, anakku begitu semangat belajar dengan aku setiap harinya. Aku telah banyak melewatkan hari-hari ketika mereka bayi ( karena saat itu aku masih coass dan PTT). Apakah aku tidak ingin menghabiskan waktu melihat perkembangan mereka? Apakah aku tetep mementingkan egoku semata? 
Ustadz Firanda di kajian tentang Ilmu, memang mengatakan kalau niat kita sekolah kedokteran ikhlas ingin memberi pengobatan yang relatif terjangkau, menolong banyak orang yang sakit, insya Alloh selama kita sekolah bernilai ibadah dan mendapat pahala (ini yang kadang membuatku termotivasi...). Tapi siapa yang menjamin setelah lulus aku tidak lebih "gila dunia" dibanding sekarang? Tuntutan sebagai dokter spesialis tentu lebih tinggi dibanding ini. 

Ingat wahai diri...
Cukuplah saat ini yang menjadi terbaik untukmu...
Cukuplah ketika ALLLOH memberi kecukupan dalam hidupmu. Tidak pernah satu haripun, merasa kelaparan. Tidak pernah merasa ketakutan tidak punya uang untuk membeli sesuap nasi.  Setiap hari merasa aman di rumahmu Masih bisa membantu orang walaupun cuma dokter umum. Banyak waktu luang yang bisa dihabiskan dengan suami dan anak-anakku. Diberi keistiqomahan menghadiri surga dunia setiap 2 kali seminggu. Diberi suami yang shalih, anak-anak yang menyenangkan, kendaraan yang baik, rumah yang nyaman, tetangga yang baik, Bukankah semua sudah cukup memberi kebahagiaan???
Jazaakillah khoir untuk temanku yang baik, untuk advicenya. Kurasa ini yang terbaik buat wid, vie... Ini aku tulis di sini, sebagai pengingat diri.

Disusun ketika Jamaah Haji sedang wukuf di Arofah 1431 H.

Rabu, 03 November 2010

Wanna Be ...

Sebenarnya menjadi dokter adalah profesi yang cukup menyenangkan, tapi ada kalanya jenuh, capek, bosen ... Apalagi kalau sudah capek, ada pasien yang gawat, perlu banyak berfikir, perlu konsultasi ke spesialis, ditambah keluarganya nggak kooperatif... huahh.. kudu benar-benar bisa meredam emosi. Makanya kalau jadi dokter tidak "ikhlas", akibatnya memang sering banyak komplain dari pasein atau keluarga pasien. Jadi langsung "introspeksi diri" dengan tulisan dek mutia di sini, pernah nggak ya aku seperti itu.. jutek ke pasien (mhh....). BTW, Alhamdulillah mempunyai suami yang selalu mengingatkan dengan kata mutiara ini :
Amal duniawi orang yang selalu ingat (Alloh) akan menjadi ibadah, sedangkan Ibadah orang yang lalai (dengan Alloh) akan menjadi Amal duniawi.
Sebenarnya punya keinginan lain selain jadi dokter yang selalu terfikir olehku :
  • Bertani : terutama setelah baca hadits ini.
  • Menulis : sebenarnya suka banget menulis, tapi kok setiap di depan komputer, jadi ilang ya... padahal kayaknya di pikiran banyak ide-ide, tapi ketika berusaha menuangkan ke tulisan jadi ngerasa kurang dan kurang (belum niat juga kali..). Mendapat inspirasi dengan buku "Kesaksian Seorang Dokter" karya Dr.Khalid, Sp. JP dan karya-karya Ustadz Abu Umar Basyir. Pengen nulis yang ringan tapi berfaidah. Mungkin tentang pengalaman-pengalamanku selama kuliah atau jadi dokter atau ketika mengenal manhaj salaf (hehehe..), sayangnya belum punya notebook sendiri, masih pinjam punya suami, semoga saja suami mengizinkan beli notebook sendiri (gimana abu harits? ^^)
  • Membuka toko perlengkapan haji (di sini belum ada, n kayaknya prospek banget)
  • Membuat perpustakaan gratis (supaya koleksi buku ku bermanfaat)
Tapi tetap keinginan terbesar adalah menjadi istri shalihah dan ibu yang bisa mendidik anak-anaknya menjadi anak shalih.

Semoga Alloh Azza wa jalla memberi kemudahan dan semua yang kulakukan ikhlas hanya mengharap ridho-Nya.

Sabtu, 14 Agustus 2010

SMS dari Sahabatku Tercinta

Ya Alloh... Jagalah saudariku ini..
Dikala penjagaanku tak sampai kepadanya...
Sayangi dia kala sayangku tak mampu merengkuhnya dalam dekapan nyata ...
Muliakan dia ...
Kala penghargaanku tak terangkum dalam kata yang sahaja ...
Karena Engkau punya segala yang tak ku punya...
Dan karna ku ingin dia selalu menjadi saudariku di dunia 
Dan mengharap bertemu dengannya di surga Mu ...

Pengirim : Ummu "Athif
3 Ramadhan 1431 H
------------------------------------------------------------------------------------------------------

Mbak... betapa hati sangat suka cita membacanya..
Tiada kata yang bisa kuungkapkan untuk membalasnya...
Tak terasa air mata ini selalu tercurah setiap kali aku mengulang untuk membacanya.

Maafkan wid mbak....

Mbak .. selalu menjadi sahabat dan saudari terbaik bagi ku.

Biarpun kita jauh, aku tahu mbak selalu berdo'a untukku ..
Memang itulah sumber kekuatanku ...

Aku sangat mencintai mbak karena ALLOH semata.
Berharap kita bertemu dalam surga Nya..

Uhibbuki fillah ukhty....

Rabu, 02 Juni 2010

Pilihan Hidup

Betapa berat ketika harus memilih
Ketika hati berharap kepada sesuatu

Berharap yang terbaik atas pilihan ini...
Hanya menyerahkan kepada Alloh yang terbaik untuk diri ini
Apapun takdir yang terjadi...
Semoga hal tersebut membawa kebaikan kepada Agamaku

(dibuat ketika hati sedang gundah..)

Senin, 03 Mei 2010

Dimana Kalian Sahabatku

Teringat masa-masa kajian di mushalla asy-syifa FK. Kajian di masjid sabilillah pucangsawit.
Merindukan diri kalian ukhty fillah. Kiranya kita bisa berjumpa lagi..
Kuberharap kalian dlm kebaikan selalu...
Kuingin mengatakan bahwa aku mencintai kalian karena ALLOH semata.
Sungguh aku sangat merindukan antunna....

Teruntuk mbak hayah, mbak laili, mbak yusniar, mbak murni, Nj, ummu aisyah yuni, mbak indah, dek Ima...

Sabtu, 03 April 2010

Ujian Alloh

Pekan ini merupakan pekan ujian..... Ujian dari ALLAH untuk mengetahi berapa besar keimanan ini.

Ketika aku diharuskan memilih antara mengajukan beasiswa BK atau tidak, untuk melanjutkan PPDS...Aku bingung antara iya dan tidak. Di satu sisi.. aku tidak ingin jadi "dokter umum" selamanya, ada sedikit rasa kebosanan. Jadi seorang dokter memang mungkin bagi sebagian orang "amat mulia", tetapi ketika kita menjalaninya semuanya kembali ke "hati nurani" sebenarnya. Alhamdulillah aku ditakdirkan berprofesi ini. Ada banyak manfaat, kemudahan, kebahagiaan, pun juga ada saat-saat kebosanan melanda, jenuh, capek, dsb.

Ketika harus memilih untuk melanjutkan ke program studi apa, akupun bingung. Aku tidak ingin mengabaikan peran utamaku sebagai isteri dan ibu buat anak-anakku. Ya Rabb..beri hamba ini petunjuk. Kalaupun aku memutuskan untuk "mencoba" mengajukan, ada beberapa alasan yang terlintas di pikiranku :
1. Aku ingin kembali ke solo (atau ke yogya), supaya Harits bisa sekolah di sekolah salaf.
2. Aku kesepian di sini.......

Ketika berbincang-bincang dengan suami..
Ternyata akan ada banyak hal yang sulit jika aku sekolah lagi.
Ya ALLAH, beri hambamu ini petunjuk dan kemudahan selalu.

Selasa, 09 Februari 2010

Meneladani Sahabat

Teringat Hadits dari Rasulullah sholallohu 'alaihi wassalam yang menceritakan seorang sahabat yang dijamin masuk surga, bukan karena dia ahli ibadah atau ahli ilmu, tapi karena dia tidak pernah iri terhadap nikmat yang diberikan ALLAH pada orang lain. Ternyata itu adalah suatu amalan yang luar biasa susahnya.....betapa susah menjaga hati dari hal tersebut.
Ada saat hati ini merasa iri melihat kemudahan-kemudahan yang didapat teman sendiri, ketika teman kita dapat intens belajar bahasa arab, menghafal alQur'an, tinggal di pondok, dapat berdakwah, ilmunya semakin banyak...ada suatu rasa "ingin seperti itu",
Salahkah hal tersebut?

Kamis, 24 Desember 2009

Merindukan Sahabat

Sudah hampir 3 tahun ana tidak bertemu dengan sahabat-sahabat terbaikku. Sahabat yang dulu mengenalkan manhaj yang haq ini, yang selalu mengingatkan untuk bertaqwa, senantiasa memberi diri ini dorongan dan semangat untuk selalu belajar. Ada perasaan ingin kembali mengulang masa-masa itu...
Dimana kami selalu semangat mengisi hari-hari bersama untuk tholabul 'ilmi, mengadakan daurah, membuat perpustakaan bersama. Kini kami semua sudah mempunyai suami dan anak-anak. Sudah sibuk dengan aktivitas sehari-hari di rumah, apalagi rata-rata kami mempunyai anak lebih dari satu. Satu minggu yang lalu salah seorang sahabat ana menelpon...
Betapa senang hati ini, tidak ada kecanggungan, tidak ada rasa sungkan biarpun kami sudah tidak berhubungan berbulan-bulan.
Alhamdulillah, sahabatku sudah mendapatkan suami yang shalih, insya ALLAH. Dia jadi Ustadzah di Pondok AL Madinah Grenjeng, Boyolali. Rumahnya dekat dengan pondok. Dia memang "luar biasa" (menurutku), sejak SMA pengetahuan Diennya sudah bagus, biarpun kuliah di FK, hafalan qu'annya lebih dari 3 juz (semoga sekarang sudah tahfidz), bahasa arabnya bagus. Kapan ya aku bisa mengejar hafalannya?? Padahal suamiku selalu mendorong, fasilitas ada, tapi memang susah sekali istiqomah.....

Jumat, 11 Desember 2009

Belajar

Setiap hari harus belajar untuk menjadi istri yang lebih baik
Harus selalu introspeksi diri...

Suamiku..sungguh aku minta keridhoaanmu...... 
Ku ingin menjadi perhiasan terindah untuk dirimu...

Jumat, 04 Desember 2009

Kesempitan

Ada saat ketika kita merasa cukup, rezeki datang dari arah mana saja, begitu mudah mendapat rezeki dan tidak ada pengeluaran yang mendesak.
Tetapi kadang ALLAH Azza wa Jalla menguji makhlukNya...
Ketika sedang disempitkan rizqinya, kita diberi berbagai cobaan....
Isteri sakit, genteng rumah bocor, atap rumah ambruk, ada ikhwan yang mendadak pinjam uang, dapat jatah pertemuan keluarga, dsb..dsb..
Berbagai macam keperluan yang tiada habisnya.
Ketika itu ALLAH benar-benar menguji sampai seberapa besar keimanan kita.
Seberapa sabar kita menghadapinya...
Yang penting kita sabar dan tidak mengkhawatirkan masa depan.
ALLAH telah menjamin rezeki kita.
Jangan sampai kita "enggan" bersedekah ketika masa sempit itu..
Dengan sedekah rezeki akan terus mengalir tiada putusnya.....

Minggu, 29 November 2009

Menulis

Saat menulis adalah ketika jaga di RS .... Ketika tidak ada pasien dan tidak ada konsulan. Daripada tidak ada kegiatan, maka aku memutuskan mulai kembali menulis. Dengan menulis, aku bisa mencurahkan isi hatiku, bisa menumpahkan apa yang ada di pikiranku. Sejak dulu, aku memang suka menulis. tapi aku tidak punya keberanian menulis untuk 'publik'....
Suamiku sering mendorong aku untuk kembali menulis artikel-arikel kesehatan yang bisa dikirim ke As Sunnah, An Nikah, dan majalah islam lainnya. tetapi karena alasan sibuk, aku belum kembali mencoba...
Mungkin mulai saat ini aku akan mencoba, kembali menulis lagi. Insya ALLAH.
Semoga bisa membawa faedah buat akhwat fillah.

Rabu, 25 November 2009

9 dzulhijah

Rencana hari ini harus kontrol post kuretase 2 minggu yang lalu.
agak deg-degan juga, harus periksa urin..untuk tahu kadar HCG nya.
dari hasil kuret, ada gelembung mola, jadi untuk memastikan harus di PA. dan dipantau kadar HCG.

ya ALLAH...semoga tidak terjadi hal-hal yang dikhawatirkan.
semua sudah menjadi kehendakMU
bimbinglah diri ini untuk selalu bersabar dan bersyukur atas semua taqdirMu.

hari ini 9 dzulhijah, hari yang sangat mulia.
harus banyak beramal shalih...
rencana pulang ke rumah mertua, shalat IED di randudongkal.
besok ada pertemuan keluarga abulharits.
alhamdulillah... sudah mulai akrab dengan family jauzy (terutama dari keluarga bapak mertua).
tiap 3 bulan ada pertemuan rutin keluarga.

tetapi sejak ibu mertua meninggal, kami kurang akrab dengan keluarga dari ibu.
walaupun begitu alhamdulillah abulharits masih menjalin silaturahim dengan saudara-saudara ibu.
abulharits tahu bahwa salah satu bentuk birrul walidain adalah dengan tetap menjalin silaturahim dengan saudara-saudara orang tua kita ketika orang tua kita sudah meninggal dunia. Karena itu sedapat mungkin kalau senggang, abulharits mengajak kami ziarah ke rumah wajikun dan wanarwen (kakak dari ibu mertua).

ya ALLAH...bimbinglah kami untuk selalu menjadi anak shalih, yang bisa menjadi penyejuk mata kedua orang tua kami. jadikanlah anak-anak kami anak yang shalih dan qurrota a'yun. amiin.

BAITI

Rumah yang sederhana, sudah dibangun sejak akhir tahun 80-an.
Luasnya mungkin cuma 45 meter persegi,
Ada 3 kamar, satu kamar mandi, dapur dan ruang tamu.
Ada halaman di depan dan belakangnya, biarpun tidak ada pagarnya.
Bangunannya sudah tua, sehingga sebelum pindahan, kami harus ngecat dan sedikit renovasi.

Alhamdulillah..
Rumah yang nyaman, kami sudah mulai betah, apalagi lokasinya strategis.
Dekat dengan masjid, sehingga suami tidak bingung kalau shalat jama'ah.
Di depan rumah juga bukan jalan raya, sehingga kami tidak takut jika anak-anak bermain di luar rumah.
Ada halaman belakang yang sudah ditanami anggur dan apotik hidup oleh pemilik sebelumnya.
Bagaimana dengan tetangga kami? Alhamdulillah...mereka adalah teman kerja di RS, jadi kami tidak perlu banyak adaptasi. tidak ada "tahlilan", pertemuan PKK, arisan ibu-ibu dsb seperti sebagaimana di perumahan/kampung.

ya Rabb...semoga rumah ini bisa menjadi tempat untuk selalu beribadah kepada Mu,
Jauhkanlah dari segala gangguan syaitan dan dari kejahatan makhlukMu.
Bimbinglah kami untuk selalu istiqomah di jalanMu.