Selasa, 01 Juni 2010

Mutiara-Mutiara Yang Tersembunyi...

Ada seseorang laki-laki yang awam mengatakan, “Kenapa sih para perempuan berpakaian seperti itu, sudah tebal, gelap, tertutup semuanya lagi tidak kepanasan apa, buat risih yang melihatnya..!” ada lagi perempuan yang awam juga mengatakan, “Huh! Sok banget pakai pakaian seperti itu, muna! Padahal hatinya sama saja busuk juga! Pakaian itu Cuma buat kedok saja!” dan banyak lagi perkataan lainnya yang sering penulis dengar dari mulut mereka yang tidak memahami hukum-hukum dalam agamanya. Sungguh penulis merasakan kombinasi perasaan antara kasihan dan sedih mendengar perkataan-perkataan seperti ini.

Dengan memohon ampun kepada Allah Ta’ala dan mendoakan kebaikan bagi mereka yang masih awam penulis menjawab, “Wahai saudaraku! Mereka ini seperti mutiara-mutiara tengah pasir!” Mereka bertanya, “Maksud anda apa? Apakah kami ini pasir-pasirnya?” Penulis menjawab, “Benar, keutamaan perempuan yang berpakaian gamis tebal itu bagaikan mutiara di antara pasir, di tengah-tengah kalian!” mereka kembali bertanya, “Kenapa bisa begitu?” Penulis menjawab, “Karena keutamaan mereka di hadapan Allah Ta’ala, karena keridhaan mereka terhadap syari’at Allah Ta’ala, karena kesungguhan mereka dalam menjaga kehormatan mereka di hadapan manusia!”



Dari merekalah akan terdidik generasi-generasi muda Islam yang bertaqwa kepada Allah Ta’ala, dari merekalah akan kita harapkan anak-anak kita menjadi shalih dan shalihah, maka jika engkau mengambil mutiara itu dan membawanya kerumahmu, maka akan engkau dapati dia adalah hal yang terindah dalam rumahmu. Dari wanita shalihah seperti ini engkau bisa berbagi sedih dan ceria maka dapatilah dia sebagai teman terbaik dalam hidupmu..

Wanita shalihah juga mampu tampil sebagai gurumu dalam mempelajari ilmu-ilmu agama yang syar’i, sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan tampilah dia sebagai guru yang penuk kasih sayang..

Inilah sosok putri Sa’id bin Musayyib manakala suaminya datang kepadanya, suaminya (Abu Wida’ah) adalah salah seorang murid dari ayahnya sendiri. Saat menjelang waktu Subuh, suaminya mengambil sorbannya karena hendak keluar. Sang istri pun bertanya kepadanya, “Mau kemanakah engkau?” Abu Wida’ah menjawab, “Aku hendak pergi ke majelis Sa’id untuk menuntut ilmu,” Lalu sang istri itu berkata, “Duduklah, aku akan mengajarkan ilmu Sa’id kepadamu.” [Al-Madkhol, Imam Ibnul Hajj (1/215)]

Duhai alangkah indah dan mulianya majelis ini, ketika seorang istri yang shalihah lagi faqih mengajarkan ilmu agama kepada suaminya yang tekun menuntut ilmu, semoga Allah merahmati suami istri yang selalu bersama berusaha memperbaiki diri dan keluarga untuk mencari keridhaan Allah Ta’ala. Jika majelis-majelis seperti ini selalu ada dalam rumah tangga kaum muslimin maka darimanakah keburukan itu bisa bermula? Maka mutiara-mutiara itu selalu menjadi impian bagi laki-laki yang shalih, mutiara-mutiara yang begitu bersih, bercahaya seperti mentari pagi yang menghangatkan bumi ini... dan mutiara-mutiara itu tersebunyi ... di balik hijabnya.

Inilah kisah sebuah mutiara lain yang tersembunyi dan berkilau di antara pasir-pasir manusia, “Seseorang membacakan Kitab Al-Muwaththo’ kepada Imam Malik rahimahullah. (Sedangkan Putri Imam Malik berada di balik pintu untuk mendengarkan bacaan itu), apabila bacaan si pembaca itu keliru, atau ia menambahi atau mengurangi bacaan tersebut, maka putri Imam Malik langsung mengetuk dari balik pintu. Lalu ayahnya (Imam Malik) berkata kepada si pembaca, “Ulangilah, karena bacaanmu keliru.” Si pembaca pun mengulanginya, maka ia menemui kekeliruannya tersebut.” [Al madkhol (1/215)]

Maka wanita-wanita shalihah yang menjadi lautan ilmu ini membasahi kekeringan bagi manusia-manusia yang merindukan ilmu syar’i, mereka termasuk dalam barisan wanita-wanita ahli ilmu yang namanya harum dalam sejarah manusia, harum semerbak tanpa menimbulkan fitnah, memukau hati dan jiwa..

‘Amroh adalah seorang wanita dari kaum Anshar, dari Bani Najjar, dari Madinah, seorang wanita yang faqih, belajar dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dan merupakan murid ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Ayyub bin Suwaid meriwayatkan dari Yunus dari Ibnu Syihab dari Al-Qosim bin Muhammad bahwa beliau berkata kepadaku, “Wahai anak muda! Aku melihat engkau sangat senang menuntut ilmu, maukah engkau aku beritahu sumber ilmu yang banyak?” Aku menjawab, “Tentu saja aku mau.” Dia berkata lagi, “Datangilah ‘Amroh, karena ia berada dalam bimbingan langsung ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha.” Kemudian dia melanjutkan, “Lalu aku pun mendatanginya dan aku mendapatkan ilmu yang banyak darinya.” [Siyar A’lami ‘n-Nubala’ (4/507-508)]

Wahai saudaraku ikhwani fillah, wahai laki-laki yang mengharapkan keselamatan dan keindahan dalam rumah tangganya, mutiara-mutiara ini tersembunyi dari pandangan manusia, indah berkilau di rumah mereka tak tersentuh pandangan-pandangan kotor laki-laki yang memiliki penyakit dalam hatinya. Mutiara ini teramat mahal dan tak ternilai harganya, mereka adalah perhiasan terindah di dunia ini.

Mutiara-mutiara ini tidak akan tertarik dengan keindahan dunia yang engkau miliki, harta yang berlimpah tidak menyilaukan matanya, wajah yang rupawan bukanlah impiannya, kedudukan dan jabatan tak pernah menjadi tujuannya, hanya seorang laki-laki sederhana yang shalih, seorang penuntut ilmu yang tak pernah letih dalam usahanya, dan seorang lelaki yang merindukan jannah yang kelak akan mampu mengisi hari-hari mutiara-mutiara ini.

Jika engkau ingin mendapatkan mutiara ini wahai saudaraku! Maka jadikanlah dirimu layak untuk mendapatkannya, bukan dengan harta berlimpah dan kedudukan yang tinggi, namun uluran tangan menuju kepada keridhaan Allah Ta’ala yang mampu membawanya dengan ikhlas dan rela, yang mampu melindungi kilauannya dari pandangan jahat manusia, yang mampu merawat kilauannya hingga akhirnnya, mutiara ini merindukan kehidupan sederhana yang diisi dengan ketaqwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dialah mutiara yang tersembunyi dalam hijab tebal dan gelap, tersembunyi hingga engkau yang shalih kelak diizinkan membawanya...

Wallahu a’lam bish showab

Oleh Andi Abu Najwa
(Dari Bengkel Akhlak Sunnah)

Jumat, 14 Mei 2010

Permainan yang dibolehkan untuk anak

oleh : Ustadz Abdurrahman al-Buthoni

Tidak semua permainan boleh dan baik bagi anak. Ada beberapa  permainan yang boleh dan ada yang tidak boleh. Permainan yang boleh dilakukan antara lain :
  1. Permainan yang tidak mengandung dosa dan maksiat.
  2. Permainan yang berfaedah bagi pertumbuhan jasmani dan akal pikirannya, seperti berlari, melompat, melempar, mengangkat, membuat sesuatu, menyusun atau menata benda-benda tertentu, berteriak yang wajar  selama tidak menganggu dan lain-lain. Ini semua akan melatih dan menguatkan ototnya serta membuat nyaring suaranya.
  3. Latihan memanah  (menembak pada zaman sekarang), berenang dan berkuda (bersepeda, naik motor, atau mengendarai mobil pada zaman sekarang).
  4. Permainan atau ketrampilan yang bisa membangun keluhuran jiwa dan ketangkasan serta akhlak mulia. Seperti bermain dengan burung kecil atau yang semisalnya.
Bolehnya permainan di atas karena sebagai sarana menyiapkan  pribadi secara utuh baik sisi iman, adab dan akhlak mulia, maupun ketangkasan serta kekuatan untuk berjihad fii sabilillah bukan untuk tujuan duniawi semata.  Berbeda dengan yang ada di zaman sekarang yang menjadikan olahraga atau permainan sebagai lapangan  pekerjaan/pencaharian, atau untuk merebut piala, untuk meraih popularitas dan lain-lain.

Dan tentunya dalam bermain memanah atau menembak,  anak harus dilatih dan diawasi  agar tidak timbul madhorot yang bisa menimpa diri maupun orang lain, dan agar melesatnya anak panah atau peluru tepat mengenai sasaran yang terkendali. Para pendidik tidak boleh membiarkan anak bermain dengan panah atau semisalnya tanpa kendali. Sebab dikhawatirkan ia akan melukai seorang muslim, yang mana Alloh dan Rosul-Nya melarang hal itu.

Sumber : Majalah al Mawaddah, Edisi 8 tahun ke - 3. Dalam artikel "Biarkan Anak Anda Bermain, hal : 34-35.

Senin, 10 Mei 2010

Mutiara syair al-Imam asy-Syafi'i

الفقـيه هو الفقـيه بفعـله * ليس الفقـيه بنطـقه و مقاله إن
وكذا الرئيس هو الرئيس بخلقه * ليس الرئيس بقومه و رجاله
وكذا الغـني هو الغـني بحاله * ليس الغـني بملـكه و بماله


Sesungguhnya orang yang faqih itu adalah dinilai dengan perbuatannya, Bukanlah orang yang faqih itu dinilai dengan ucapan dan perkataannya.
Begitu juga pemimpin itu adalah dinilai dengan kemuliaan akhlaknya,
Bukanlah pemimpin itu dinilai dengan banyaknya pengikut dan pembela-pembelanya.

Begitu juga orang yang kaya itu adalah dinilai dengan keadaan (kedermawanan)nya,
Bukanlah orang yang kaya itu dinilai dengan banyaknya harta bendanya.

[Diwan Al-Imam Asy-Syafi'i, hal. 97]



Bait-Bait Syair Imam Syafi'i

Sampaikanlah nasehatmu dikala aku SENDIRIAN.. 

Tahanlah nasehatmu untukku ketika dihadapan manusia, 

Karena menyampaikan nasehat dihadapan manusia adalah memburukkannya 

Yang mana aku tidak ridho mendengarnya jika nasehatmu menyelisihi diriku dan aku menentang perkataanmu,

Maka janganlah Engkau ...sedih tatkala nasehatmu Tidak menghasilkan: KETAATAN : 

(Diwan Asy Syafi'i)

Senin, 03 Mei 2010

Dimana Kalian Sahabatku

Teringat masa-masa kajian di mushalla asy-syifa FK. Kajian di masjid sabilillah pucangsawit.
Merindukan diri kalian ukhty fillah. Kiranya kita bisa berjumpa lagi..
Kuberharap kalian dlm kebaikan selalu...
Kuingin mengatakan bahwa aku mencintai kalian karena ALLOH semata.
Sungguh aku sangat merindukan antunna....

Teruntuk mbak hayah, mbak laili, mbak yusniar, mbak murni, Nj, ummu aisyah yuni, mbak indah, dek Ima...

Sandal Salafi

Oleh : Al Ustadz Aris Munandar (www.ustadzaris.com)

Saya pernah mendengar ada seorang yang menamai sandal model atau jenis tertentu sebagai sandal salafi. Demikian pula ada orang yang beranggapan bahwa seorang muslim salafi itu memiliki model penutup kepala yang khas semisal sorban model Yaman atau memakai syamagh khas laki-laki Saudi.

Ilustrasi
Ilustrasi

Untuk menilai fonemena di atas mari kita renungkan bersama penjelasan Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah berikut ini. Perkataan beliau ini ada di kitab al Furqon Baina Auliya ar Rohman wa Auliya asy Syaithon hal 65-66 terbitan Maktabah ar Rusyd Riyadh, cetakan kedua tahun 1424 dengan tahqiq dari Salim al Hilali.

وليس لأولياء الله شيء يتميزون به عن الناس في الظاهر من الأمور المباحات فلا يتميزون بلباس دون لباس إذا كان كلاهما مباحا ولا بحلق شعر أو تقصيره أو ظفره إذا كان مباحا
Syeikhul Islam Ibnu Taimiyyah-rahimahullah-mengatakan,
“Para kekasih Allah itu tidaklah memiliki ciri khas dalam penampilan lahiriah yang membedakan mereka kebanyakan anggota masyarakat selama hal tersebut masih dalam ruang lingkup hukum mubah. Mereka tidaklah memiliki ciri khas berupa model pakaian tertentu selama model pakaian tersebut hukumnya mubah dalam timbangan syariat. Mereka juga tidak memiliki ciri khas berupa berkepala gundul atau potongan rambut yang pendek ataupun kondisi kuku tertentu selama itu semua hukumnya mubah dalam timbangan syariat.

كما قيل : كم من صديق في قباء وكم من زنديق في عباء بل يوجد في جميع أصناف أمة محمد صلى الله عليه و سلم إذا لم يكونوا من أهل البدع الظاهرة والفجور فيوجدون في أهل القرآن وأهل العلم ويوجد في أهل الجهاد والسيف ويوجدون في التجار والصناع والزراع
Sebagaimana ungkapan sebagian orang yang mengatakan, “Betapa banyak shidiq (manusia bertakwa) yang berpakaian biasa dan berapa banyak zindiq (munafik durjana) yang berjubah”.

Bahkan kekasih Allah itu berasal dari berbagai ragam umat Muhammad-Shallallahu ‘alaihi wa Sallam- selama mereka bukan bagian dari ahli bid’ah yang sangat jelas kebid’ahannya dan bukan pula bagian dari para pendosa. Ada kekasih Allah yang berasal dari kalangan penghafal al Qur’an, ulama, mujahid, pedagang, pengrajin dan petani.

وقد ذكر الله أصناف أمة محمد صلى الله عليه و سلم في قوله تعالى : { إن ربك يعلم أنك تقوم أدنى من ثلثي الليل ونصفه وثلثه وطائفة من الذين معك والله يقدر الليل والنهار علم أن لن تحصوه فتاب عليكم فاقرؤوا ما تيسر من القرآن علم أن سيكون منكم مرضى وآخرون يضربون في الأرض يبتغون من فضل الله وآخرون يقاتلون في سبيل الله فاقرؤوا ما تيسر منه }
Allah telah menyebutkan berbagai jenis umat Muhammad-Shallallahu ‘alaihi wa Sallam- dalam firman-Nya yang artinya, “Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu, Maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi berperang di jalan Allah, Maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran” (QS al Muzzammil:20).

وكان السلف يسمون أهل الدين والعلم : ( القراء ) فيدخل فيهم العلماء والنساك ثم حدث بعد ذلك اسم الصوفية و الفقراء واسم الصوفية : هو نسبة إلى لباس الصوف هذا هو الصحيح
Dahulu di masa Salaf orang-orang yang taat beragama dan berilmu disebut dengan istilah qurra’. Sehingga tercakup dalam istilah qurra’ para ulama dan ahli ibadah. Baru setelah masa salaf muncul istilah shufi dan faqir (baca:shufi). Menurut pendapat yang benar istilah shufi itu diambil dari shuf yang berarti kain wol yang kasar”.
***

Berdasarkan penjelasan di atas jelaslah bahwa seorang muslim salafi itu tidaklah memiliki ciri khas tertentu yang membedakan mereka dari masyarakat sekelilingnya dalam penampilan lahiriah selama penampilan lahiriah yang dimiliki oleh masyarakat sekelilingnya itu hukumnya mubah.

Bukanlah syarat muslim salafi harus memakai peci putih, ghutroh kesukaan orang-orang Saudi, sorban ala Yaman, atau sandal karet model tertentu.

Muslim salafi tidak memiliki ciri khas dengan model rumah tertentu, model kendaraan tertentu, model sepatu tertentu, buku tulis tertentu, model hp tertentu dan seterusnya. Tentu dengan catatan selama hal-hal tadi hukumnya mubah dalam timbangan syariat, tidak terlarang karena bendanya (misal sepatu dari kulit babi), karena menjadi ciri khas orang kafir, lawan jenis ataupun orang fasik dan seterusnya. Ingat, sekali lagi selama hal tersebut hukumnya mubah dalam timbangan syariat.

Bahkan menjadikan model penampilan lahiriah tertentu sebagai tolak ukur orang shalih dan bertakwa adalah bid’ah yang dibuat oleh orang-orang shufi. Mereka disebut shufi disebabkan mereka menjadikan pakaian dari shuf atau wol kasar sebagai ciri khas mereka dengan keyakinan itulah ciri khas pakaian orang yang zuhud, shalih dan bertakwa.

Maka sungguh aneh jika ada orang yang demikian anti dengan jalan shufi dalam beragama namun tertular penyakit dan penyimpangan shufi.
Ini semua menunjukkan pentingnya ilmu sehingga kita bisa bersikap dan berpandangan yang tepat dan tidak kontradiktif.

Sabtu, 03 April 2010

Ujian Alloh

Pekan ini merupakan pekan ujian..... Ujian dari ALLAH untuk mengetahi berapa besar keimanan ini.

Ketika aku diharuskan memilih antara mengajukan beasiswa BK atau tidak, untuk melanjutkan PPDS...Aku bingung antara iya dan tidak. Di satu sisi.. aku tidak ingin jadi "dokter umum" selamanya, ada sedikit rasa kebosanan. Jadi seorang dokter memang mungkin bagi sebagian orang "amat mulia", tetapi ketika kita menjalaninya semuanya kembali ke "hati nurani" sebenarnya. Alhamdulillah aku ditakdirkan berprofesi ini. Ada banyak manfaat, kemudahan, kebahagiaan, pun juga ada saat-saat kebosanan melanda, jenuh, capek, dsb.

Ketika harus memilih untuk melanjutkan ke program studi apa, akupun bingung. Aku tidak ingin mengabaikan peran utamaku sebagai isteri dan ibu buat anak-anakku. Ya Rabb..beri hamba ini petunjuk. Kalaupun aku memutuskan untuk "mencoba" mengajukan, ada beberapa alasan yang terlintas di pikiranku :
1. Aku ingin kembali ke solo (atau ke yogya), supaya Harits bisa sekolah di sekolah salaf.
2. Aku kesepian di sini.......

Ketika berbincang-bincang dengan suami..
Ternyata akan ada banyak hal yang sulit jika aku sekolah lagi.
Ya ALLAH, beri hambamu ini petunjuk dan kemudahan selalu.